Saturday, 1 June 2013

Karakter Akhwat (jaman sekarang)

Sore ini saat nungguin ade-ade TPA di masjid deket kampus buat ngaji sore bareng, ane dapat sedikit pemikiran baru nih tentang karakter akhwat yang sebaiknya akhwat-akhwat jaman sekarang ketahui, pemikiran ini berawal dari ngobrol-ngobrolnya ane dengan seorang akhwat yang sudah lebih siap untuk membuka pintu walimah dibandingkan ane..beliau bilang, yang beliau utarakan adalah materi kajian abi pondoknya. 

Banyak di antara para akhwat yang belum tau, termasuk ane juga kali ya...yang kadang-kadang ngobrolinnya udah tentang walimahan mulu, padahal nih ya..sama-sama udah tau kalo Jodoh kita tuh udah di siapin sama Allah, tinggal kita perbaikin diri terus aja..karena ikhwan baik buat akhwat yang baik dan sebaliknya, serta kalau udah jodoh yakin dah nggak akan salah alamat...!!!

Akhwat yang udah berusia 20-an (kepada dua) akan sangat riskan dengan penyakit "galau walimah". Seolah-olah sudah ingin menyegerakan walimahan, tapi ketika ditanya tentang kesiapan diri...jawabannya masih sangat jauh dari apa yang seharusnya..bzzz

Gini nih...akhwat yang menjelang pintu walimah, itu sebenernya wajib tau gimana karakternya...agar ketika sudah menyandang status sebagai seorang istri, dapat menjadi istri yang baiiiik bagi suaminya, kan amalan menuju surga tuh jadinya.. :)





Kalau boleh digolongkan, ada beberapa macam nih karakter akhwatnya...
1. Akhwat kedongdong : Buah kedondong itu sebenernya dari luar biasa aja...kayak buah-buahan lainnya, tapi sebenernya dalamnya itu serem, dengan biji keras dan berakar tajam *gk bisa di makan pula. Intinya akhwat kedondong tuh dari luar yah kayak akhwat-akhwat lainnya, kelihatan solikhah. Tapi ketika sudah walimahan nantinya, sangat besar peluang si akhwat untuk menampakkan apa yang sebenarnya ada dalam hatinya. Ada penyakit hati di sana. Ada rasa syirik, iri, dengki, suka menggunjing, kurang bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah dan apa yang telah diupayakan oleh suami. Jaman sekarang sangat banyak akhwat tipe ini. Waspada...jangan-jangan kita merupakan salah satunya, *jangan sampai...segera perbaiki diri sista.
2. Akhwat pisang : Pisang adalah buah yang gampang penyet, maka analogi untuk akhwat pisang adalah...akhwat yang akan sangat terpengaruh pada seperti apa ikhwan yang memilinya menjadi pendamping hidup serta sepeti apa lingkungan kehidupan yang akan melingkupi hari-hari rumah tangga mereka pasca walimah. Jika mendapatkan yang baik, akhwat pisang akan menjadi sosok istri yang sangat baik. 
3. Akhwat Alpukat : Buah Alpukat, ketika diambil dari pohon tentu akan masih keras. Sebelum buah alpukat menjadi lunak dan sangat nikmat untuk di makan, buah alpukat harus menjalani suatu proses yakni didiamkan beberapa hari terlebih dahulu. Akhwat alpukat yang dimaksud disini ialah akhwat yang sebelum walimah, beliau masih belum sepenuhnya menjadi akhwat yang baik. Masih sangat banyak hal yang perlu diperbaiki untuk menjadi muslimah yang baik, dan ini akan dapat dilakukan dengan melibatkan peran suami yang secara sabar bersama-sama menjalani proses untuk memperbaiki diri sekaligus menjadi dan mensuplay faktor X yang membuat si akhwat termotivasi untuk menjadi lebih baik. Syarat yang berlaku di sini ialah ikhwan yang akan mengkhitbah akhwat alpukat seyogyanya adalah ikhwan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
4. Akhwat Mangga : Buah mangga ketika sudah matang, meskipun ada di pohon, kita akan sangat ingin bersegera untuk memetiknya. Buah mangga, semakin ranum maka akan mengakibatkan semakin menggoda mata siapa pun yang melihatnya. Dan ketika sudah memakannya, maka kita akan dengan mudah terlena olehnya. Akhwat mangga adalah akhwat yang melenakan, melenakan karena kecantikannya..kepiawaiannya dalam berbicara, dan banyak hal lain yang mebuat ikhwan betah berlama-lama dengannya sehingga akan menurunkan kadar kualitas ibadah keduanya ketika sudah berada dalam biduk rumah tangga.
5. Akhwat Durian : Buah durian semerbak baunya, tapi berduri di luarnya..namun lembut-empuk buahnya. Akhwat durian adalah akhwat yang kebaikannya telah menyebar kemana-mana. Tapi si akhwat durian kokoh menjaga dirinya. Menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya, serta tegas dalam perkataanya. Tidak melenakan, dan lembut hatinya.

Kira-kira, seperti apa karakter kita sekarang? Bagian mana yang perlu diperbaiki, jangan-jangan sangat banyak yang perlu di rehab? Semuanya, tentang karakter kita...tanyakan pada hati kita yang terdalam, seperti apa kah kita sekarang...seperti apakah yang seharusnya, serta bagaimana agar kita yang sekarang dapat menjadi kita yang seharusnya tanpa menghilangkan apa yang kebanyakan orang sebut sebagai jati diri..?


Monday, 6 May 2013

Seribu Mimpi

Ini kisahku. Kisahku yang mengisahkan tentang kawanku. Hingga akhirnya kisah kawanku menuntunku pada kelanjutan kisahku sendiri. Kelanjutan akan kisah yang sempat tertemaramkan oleh kesurutan semangat, kilau harapan yang hampir tak ujud ku upayakan.


aku berkisah :

Beberapa pekan yang lalu, aku bertemu dengan para penggenggam seribu mimpi. Mereka bukan orang-orang yang memiliki kerabat yang saling berkasih sayang dan sayang pada mereka, tapi mereka menumbuh suburkan kasih sayang di antaramereka. Mereka bukan termasuk golongan keturunan orang berpunya, tapi mereka terkayakan dengan pengalaman, hikmah, semangat, dan nasihat yang senantiasa digemakan dalam kamar 3x3 oleh beberapa orang yang sangat percaya pada kekuatan niat dan usaha. Mereka tidak pula dilengkapi dengan fasilitas seperti HP, TVmaupun kendaraan, seperti yang sekarang dapat dinikmati dengan gampang olehbanyak orang yang bahkan mungkin belum tau mimpinya, belum tau cita-citanya,belum ada gambaran akan dibawa kemana masa depannya.


Mereka, tanpa HP, telah merasa lengkap dengan bercengkrama ketika sahur danberbuka puasa, dikuatkan ukhuwahnya dalam sekolah sore di masjid sebelah tempat tinggalnya. Mereka, tanpa TV, telah berupaya menjaga pandangan jauh lebih baik dari sebagian diantara kita yang menggemari serial film romantis, drama korea,film-film barat dan tayangan-tayangan gosip yang menguak aib-aib hamba Allah. Mereka, tanpa kendaraan, merasa baik-baik saja berjalan sejauh apa pun dengan landasan niat untuk menuntut ilmu. Malunya aku, ketika sadar bahwa dengan atautanpa HP, aku masih jauh dari kedekatan hati dengan saudara-saudariku sesamamuslim. Dengan atau tanpa TV, aku masih sering terjerumus dalam ghibah yang mungkin akan menyakiti hati saudaraku, terlena pada film-film di layar laptopku, sejenak mencermati alur kisah drama bahkan hingga meneteskan air matayang padahal dalam sholat pun sangat jarang membiarkan air mata menetes..Masyaallah.... Pun dengan atau tanpa kendaraan, masih sempat terlintas dalam benakku untuk sesekali tidak masuk kuliah, terkadang berpikir untuk mangkir dari janji rapat,atau juga masih sempat untuk menunda pekerjaan bahkan mengulur waktu dari memberi kebermanfaatan pada sesama. Ya Rabb... betapa terbatasnya aku pada rasa syukur,betapa lemahnya aku terhadap nafsu. ya Allah...aku malu pada-Mu..

Mereka berkisah :
Masa laluku kelam, dan sebaiknya tak jadi bahan cerita. Hanya episode kehidupan penuh luka, tak bahagia. Namun kini itu semua sudah berlalu, aku berpaling pada episode kehidupan yang baru. Segelap apa pun yang ada di belakangku, kini didepanku masih ada cahaya. Aku percaya, Allah tak akan menyia-nyiakan apa yang sudah diciptakannya. Bahkan aku pun yakin, alang-alang yang terlihat sedemikian lemah pun tidak diciptakan untuk sesuatu yang sia-sia. 
Aku tak pernah merasa hidup dalam keterbatasan. Puasa senin-kamis, kumaknai bukan sebagai jalan menghemat bahan makanan yang kuketahui sangat terbatasjumlahnya, tapi sebagai salah satu bentuk ketaqwaanku pada Allah. Jalan kaki demi menuntut ilmu kuniatkan sebagai amalan mulia yang Allah suka. Menjaga pandangan dan menahan hawa nafsu kuniatkan sebagai bentuk penjagaan diriku dihadapan Allah.Aku merasa nikmat dengan semua itu. Aku menikmati ketika perut kosong, sangat lapar dan hanya ada setengah centong nasi yang ditemani ikan asin. Aku menikmati lelahku karena jauhnya jalanku ke sekolah, gemetar kakiku saking lelahnya berlari ke sekolah terburu waktu terdesak jarak, dan ludesnya waktuku untuk memperbanyak amalan pada Tuhanku.

Aku punya MIMPI. Mimpiku adalah bisa lulus SMK, dan bisa mengabdi pada panti ini. Itu 2 mimpiku, diantara 1000 mimpi anak-anak panti ini.


Aku berkisah :
2 mimpi. Sederhana. Aku jadi mengingat pemikiranku 3 tahun yang lalu, kira-kira saat itu aku sedang dalam posisi yang sama dengan mereka, menghadapi UN. Dulu aku hanya bermimpi, aku ingin masuk kuliah. Aku tak mencantumkan lulus kuliah sebagai salah satu mimpiku saat itu, betapa teledornya. Aku tak pernah berpikir untuk bermanfaat bagi orang lain, selain ayah-ibu. Kali ini aku merasa sangat bodoh. Terlebih ketika faham bahwa orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain...
Tapi aku merasa sangat beruntung, ketika kesadaran itu datang sebelum aku mencapai ujungnya perjuangan.. selama masih ada harapan, bahkan ketika harapan itu hanya sebesar lubang jarum, segalanya masih dapat diupayakan.